Welcome My Pena

Daftar Blog Saya

Powered By Blogger
Diberdayakan oleh Blogger.

It' mii

Foto saya
aku bukanlah orang yang sempurna, tapi aku ingin melihat hidup ini dengan sempurna..

Senin, 04 Juni 2012

Plagiarisme

                                                                                   BAB I
PENDAHULUAN

Di era yang serba modern ini, banyak sekali cara yang dapat ditempuh sebagai jalan pintas untuk mempermudah suatu pekerjaan. Salah satunya yaitu dengan plagiat. Kasus plagiarisme di Indonesia sudah sering kita dengar tidak hanya dilakukan mahasiswa. Tak dapat dipungkiri bahwa plagiarisme telah menjadi budaya bagi kaum pelajar. Mereka cenderung memilih cara-cara instant seperti ini. Fakta mengatakan bahwa banyak dari kaum pelajar yang melakukan plagiat ketika mengerjakan tugas mereka. Tidak hanya dari kaum pelajar, para pengajar dan para aktor di dunia musik juga banyak yang melakukan hal tersebut. Tidak sedikit karya komposer indonesia yang diplagiat oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Begitu pun sebaliknya, banyak komposer dalam negeri yang melakukan hal yang sama.
Plagiarisme merupakan pelanggaran terhadap etika yang tidak tertulis. Hukuman bagi mereka yang melakukan plagiarisme memang baru sebatas dicopot dari jabatan dan ditunda kenaikan jabatannya ataupun bagi pelajar tidak di akui ijazahnya. Namun, itu sudah sanksi berat. Tanggung jawab dan kredibilitas lembaga pendidikan dipertaruhkan di sini.
Sebenarnya, menurut Biran, plagiarisme juga ikut dipupuk dan ditumbuh-suburkan di tengah masyarakat. Biran memberi contoh dari kebiasaan membeli kaset bajakan, mengopi buku dan novel, bahkan mencomot tulisan orang begitu saja. Tidak ada yang terlihat mempermasalahkan hal tersebut.
Biran benar, jika menyoal plagiarisme, tentu harus melihat masalah secara keseluruhan. Plagiarisme tak hanya terjadi begitu saja, tetapi ada pemicunya yang dipelihara dan "diwariskan" dari generasi ke generasi. Jadi, urusan plagiarisme bukan hanya tanggung jawab kampus, tetapi generasi.

Sebenarnya cara pandang terhadap kemampuan yang kita miliki dapat diibaratkan sebagai seberkas cahaya putih. Tergantung dari pribadi kita masing-masing. Apakah kita ingin membelokkan berkas cahaya tersebut ke arah kiri dengan mengubah warna dasar putih menjadi kehitam-hitaman yang melambangkan ketidakyakinan seseorang terhadap kemampuan yang ia miliki. Atau sebaliknya, kita membelokkan berkas cahaya tersebut ke arah kanan dengan mengubah warna dasar putih menjadi keemasan yang melambangkan orang yang yakin terhadap kemampuannya sendiri. Inilah yang menjadi latar belakang makalah kami dalam membuat makalah berjudul plagiarisme. 

                                                                             BAB II
PEMBAHASAN

A.     Pengertian Plagiarisme
Plagiarisme atau sering disebut plagiat adalah penjiplakan atau pengambilan karangan, pendapat, dan sebagainya dari orang lain dan menjadikannya seolah karangan dan pendapat sendiri.Plagiat dapat dianggap sebagai tindak pidana karena mencuri hak cipta orang lain. Di dunia pendidikan, pelaku plagiarisme dapat mendapat hukuman berat seperti dikeluarkan dari sekolah/universitas. Pelaku plagiat disebut sebagai plagiator
                                       
B.      Manusia Sebagai Makhluk Mimesis
Manusia adalah mahluk yang multidimensi. Salah satu dimensi yang tertanam di dalam kodratnya adalah hasrat untuk meniru, atau mimesis. Mimesis sendiri memiliki beragam arti, seperti imitasi, dan berbagai bentuk tindakan yang meniru suatu obyek tertentu. Dasar filosofis dari mimesi sangatlah dalam. Banyak pemikir sepanjang sejarah mencoba memahami fenomena mimesis ini. Mimesis adalah hasrat yang mendasari tindak plagiarisme.
Sebagaimana dibaca dari Wikipedia, Plato, seorang filsuf yang hidup di masa Yunani Kuno, berpendapat bahwa mimesis adalah hasrat manusia untuk meniru alam. Hasrat mimesis ini kental ditemukan pada diri penyair dan pelukis, karena mereka menjadikan alam sebagai obyek kreativitas mereka. Dengan kata lain para pelukis dan penyair meniru alam, dan mengubahnya menjadi obyek seni untuk diapresiasi. (Plato, The Republic) Apakah para pelukis ini bisa disebut plagiat alam, terutama karena mereka tidak mencantumkan catatan kaki di bawah lukisan mereka?
Tindakan plagiarisme tersebut jelas salah. Mengambil ide atau karya orang tanpa mencantumkan keterangan apapun jelas merupakan pelanggaran. Namun ada sisi lain yang perlu juga dilihat, yakni sisi manusiawi, terutama manusia yang memang sudah dari akarnya adalah mahluk peniru (homo mimesis). Hukuman dan pandangan terhadap para pelaku tindakan plagiarisme juga harus mempertimbangkan faktor manusiawi ini, dan tidak menjadi moralis “malaikat” yang merasa tidak punya dosa, dan berubah menjadi hakim-hakim akademik dalam sekejap mata.
Jelaslah bahwa plagiarisme adalah tindakan yang berakar pada hasrat untuk meniru. Suatu tindakan meniru tidak akan disebut plagiarisme, selama mencantumkan keterangan secukupnya dari sumber yang diacu. Yang diperlukan adalah kejelian dari memberi catatan referensi.
C.      Penggolongan, faktor pendorong dan Solusi Plagiarisme
1.      Dalam buku Bahasa Indonesia: Sebuah Pengantar Penulisan Ilmiah, (Felicia Utorodewo dkk. 2007) menggolongkan hal-hal berikut sebagai tindakan plagiarisme :
ü  Mengakui tulisan orang lain sebagai tulisan sendiri,
ü  Mengakui temuan orang lain sebagai kepunyaan sendiri
ü  Mengakui karya kelompok sebagai kepunyaan atau hasil sendiri,
ü  Menyajikan tulisan yang sama dalam kesempatan yang berbeda tanpa menyebutkan asal-usulnya
ü  Meringkas dan memparafrasekan (mengutip tak langsung) tanpa menyebutkan sumbernya, dan
ü  Meringkas dan memparafrasekan dengan menyebut sumbernya, tetapi rangkaian kalimat dan pilihan katanya masih terlalu sama dengan sumbernya.
ü  menggunakan tulisan orang lain secara mentah, tanpa memberikan tanda jelas (misalnya dengan menggunakan tanda kutip atau blok alinea yang berbeda) bahwa teks tersebut diambil persis dari tulisan lain.
Yang tidak tergolong plagiarisme:
ü  Menggunakan informasi yang berupa fakta umum.
ü  Menuliskan kembali (dengan mengubah kalimat atau parafrase) opini orang lain dengan memberikan sumber jelas.
ü  Mengutip secukupnya tulisan orang lain dengan memberikan tanda batas jelas bagian kutipan dan menuliskan sumbernya.

2.      Beberapa-beberapa faktor pendorong plagiarisme
Faktor intern:
1.      Menginginkan jalan pintas untuk menuju tujuannya (menghalalkan segala cara)
2.      Arti “ harga” hanya untuk “status”.
3.      Tidak menghargai potensi diri sendiri dan orang lain.
Faktor extern:
1.      Masyarakat , khususnya akademisi belum terlatih untuk memulis.
2.    Sanksi sosial yang bagi plagiator yang minim dan tidak jelas sehingga sebagian masyarakat menganggap hal ini sebagai pelanggaran kecil.
3.    Pengakuan dan penghargaan tidak mendorong.
4.    Penyalahgunaan teknologi modern.
5.    Ketidaktahuan mengenai apa itu plagiarisme dan bentuk-bentuknya.

3.    Kerugian akibat plagiarisme
Plagiarisme  merugikan semua pihak yaitu:
  • ·         Bagi penulis asli
Menulis suatu tulisan bukan perkara mudah di sini di perlukan pemikiran yang lama dan mendalam.setelah menjadi sebuah tulisan yang melewati proses panjnag tersebut seseorang dengan seeanaknya melakukan penjiplakan tanpa mencantumkan sumber aslinya dan mengakui bahwa tulisan tersebut hasil jerih payah pemikiran sendiri. Jika seperti tu bisa-bisa orang menganggap penulis utamalah yang melakukan penjiplakan jadi di sini sama saja dengan memfitnah penulis aslinya. Ingat bahwa fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan.
  • ·         Kerugian bagi plagiator (orang yang melekukan plagiat)
Kebenaran tulisan yang tidak mencantumkan sumbernya dapat di ragukan kebenarannya. Bisa jadi tulisan yang tidak mencantumkan sumbernya adalah HOAX (berita bohong).
Sebagai contoh: anda membicarakan masalah agama tanpa mencantumkan sumbernya ( kitab suci ) tidak ada seorangpun yang akan mempercayai anda.
Kita akan cenderung malas karena mengandalkan karya orang lain untuk kita jiplak dan akan selelu merasa ragu terhadap kamampuan kita sendiri
Menghambat kretifitas seseorang karena mereka tidak pernah menyalurkan dan mengekpresiakn bakat mereka.
  • ·         Kerugian bagi pembaca
Pembaca bisa jadi akan menganggap bahwa plagiator itulah penulias aslinya. Dengan kata lain dia telah melakukan kebohongan publik. Membohongi para pembaca.
  • ·         Kerugian bagi masyarakat
Masyarakat akan menganggap bahwa pelaku plagiarisme itu hebat. Contoh : ketika di adakan suatu lomba dan ternyata yang menang adalah plagiator tersebut ini berarti plagiator tersebut telah membohongi masyarakat banyak.
·         kerugian bagi instansi
Instansi dapat tercemar nama baiknya dan juga kepercayaan masyarakat terhadap kualitas instansi tersebut bisa saja hilang. Sebagai contoh salah satu mahasiswa atau dosen pada sebuah instansi a melakukan plagiat secara otomatis masyarakat akan melakukan generalisasi terhadap mahasiswa dan dosen yang ada di instansi a bahwa mereka adalah plagiat padahal yang melakukan plagiat hanya seorang saja.        
4.    Solusi
1.       Menumbuhkan intregritas dan kepercayaan diri pada diri mahasiswa sehingga senantiasa bisa menjaga dan membentengi dari perbuatan copypaste tanpa menyebutkan sumber asal.Mungkin di sini di mulai dari pembisaan-pembiasaan kecil. Sebagai contoh ketika mengerjakan ujian di biasakan untuk percaya pada pemikirannya sendiri di karenakan di sini pekerjaan teman belum tentu benar .
2.  Tim penilai harus memperhatiakan mekanisme untuk pengecekan tugas-tugas karya tulis.
3.      Meningkatkan fungsi dan peranan pembimbing penelitian karena bagaimanapun hasil penelitian dari mahasiswa merupakan pertaruhan karir dari si pembimbing.
4.      Menggunakan softwae anti plagiarisme
Salah satunya yaitu TUTRNITIN  Software made in Amerika ini banyak digunakan oleh berbagai kampus terkemuka di duniaHarga software ini memang sangat mahal arga lisensinya mencapai 400 juta rupiah untuk multi-account. Namun ada juga software antiplagiarisme yang gratis, ya namanya adalah VIPER. Viper diklaim memiliki database sebanyak 10 miliar sumber yang siap untuk dicross check dengan artikel anda. Proses penggunaan Viper tergolong sangat sederhana sekali, kita hanya perlu memasukkan artikel kita, kemudian Viper akan mengkoneksikan diri dengan database server, beberapa menit kemudian Viper akan memberikan hasil (dalam persentase) seberapa miripkah artikel kita dengan artikel yang lain berikut dengan link artikel tersebut lengkap dengan menunjukkan kalimat-kalimat yang mempunyai kemiripan dengan artikel milik kita.
D.     Contoh Kasus
Antara News, Jumat, 30 Juli 2010 14:57 WITA
Kasus Plagiat Dosen akan Dibahas Senat UNG
Gorontalo (ANTARA News) - Kasus plagiat proposal pengabdian masyarakat yang melibatkan dua dosen di Universitas Negeri Gorontalo akan dibahas dalam rapat senat perguruan tinggi negeri tersebut, dalam waktu dekat.
”Salah satu pembahasan tentang adanya dosen plagiat (penjiplak) itu di antaranya adalah pemberian sanksi. Ini adalah tugas komisi kode etik senat UNG," kata Rektor Universitas Negeri Gorontalo (UNG) Prof Dr Ir Nelson Pomalingo MPd di Gorontalo, Jumat.
Namun sebelumnya, pihak senat akan memanggil terlebih dahulu Tineke Wolok ST MM dan Radia Hafid SPd MSi, dua dosen Fakultas Ekonomi Bisnis, yang diduga terlibat kasus plagiat atau penjiplakan itu, untuk dimintai keterangan.
"Nanti kita cek dan uji kembali di mana letak kesalahan mereka, kalau terbukti menjiplak, baru sanksi itu dijatuhkan," kata Nelson Pomalingo.
Nelson, yang tinggal beberapa bulan lagi menjabat Rektor Universitas Negeri Gorontalo, juga mengaku bahwa temuan plagiat yang dilakukan dosennya itu, merupakan "kado buruk" menjelang masa jabatannya."Kasus ini juga mencoreng citra akademik," tegas dia.
Sebelumnya, dua proposal yang diajukan kedua dosen tersebut, ditolak mentah-mentah oleh Lembaga Pengabdian Masyarakat (LPM) UNG, karena meski berbeda judul, namun redaksionalnya sama persis.
Hal yang membedakan dari dua proposal pengabdian masyarakat yang diajukan dua dosen dari jurusan manajemen pada Fakultas Ekonomi Bisnis (FEB) UNG itu adalah karakter dan ukuran huruf.
Dalam proposalnya, Tinneke mengajukan judul "Pelatihan Pembuatan dan Pemasaran Kerupuk Ikan dan Udang Di Kelurahan Botutonuo, Kecamatan Kabila, Kabupaten Bone Bolango".
Sedangkan Radia mengajukan proposal dengan judul "Pelatihan Pembuatan dan Pemasaran Kue Gabin Di Kelurahan Botutonuo, Kecamatan Kabila, Kabupaten Bone Bolango". 
BAB III
                                                                                      PENUTUP

Kesimpulan
Sekarang ini plagiarisme sudah tidak asing lagi entah itu di kalangan para mahasiswa ataupun dosen sekalipun. Hali ini di sebabkan oleh banyak faktor termasuk faktor internal maupun ekstenal. Kurangnya pertanggung jawaban penulis terhadap karya tulisnya dan minimnya filter dalam mekanisme pengecekan tugas-tugas karya ilmiah  dapat mempermudah dan memberikan kesempatan bagi seseorang untuk melakukan kegiatan plagiarisme.
Plagiarisme sangat merugikan semua pihak baik penulis asli maupun plagiator sendiri. Bagi penulis asli bisa saja dia yang di anggap sebagai plagiator dan bagi plagiator sendiri kegiatan ini dapat menghambat kreifitasnya dalam menuangkan pikiran dan ide-idenya. Untuk mengatasi hal ini seharunya para penilai atau penerima tugas-tugas ilmiah harus lebih teliti dalam melakukan pengecekan tugas. Kita juga harus dapat menghargai karya orang lain dan mempunyai pertanggungjawaban jika kita mengutip tulisan dari buku, blogger ataupun tulisan-tulisan di internet haruslah  mencantumkan sumber bacaan yang jelas. 

DAFTAR PUSTAKA

Antara news. 2010. Kasus plagiat dosen akan di bahas senat UNG. (online)
Koran jakarta. 2010. Mencegah plagiarisme. (online)
( di akses Rabu, 23 Maret 2011, 17:00)
Nasrum, arnaldi. 2010. Dampak plagiarisme terhadap paradigma pelajar. (online)
Rosyidi, agam. 2007. Plagiarisme merugikan semua pihak. (online)
( di akses rabu, 23 maret 2011, 17:32)
Wattimena, reza A.A. 2010. Homo mimesis dan plagiarisme. (online)
( di akses rabu, 4 april 2011, 18:57)
Wijaya, eri. 2010. Plagiarisme dan solusi pencegahanya. (online )
pencegahannya/ ( di akses rabu, 23 maret 2011, 16:57)
Wikipedia. 2011. Plagiarisme. (online)
( di akses rabu, 23 maret 2011, 16:56)


0 komentar:

Posting Komentar